Latest Post :
Home » , » PENETAPAN 1 RAMADAN 1433H. PERSPEKTIF NU - Ahmad Junaidi, M.H.I - (Devisi Pengembangan SDM Lajnah Falakiyah NU Ponorogo, Kepala Lab. Falakiyah STAIN Ponorogo)

PENETAPAN 1 RAMADAN 1433H. PERSPEKTIF NU - Ahmad Junaidi, M.H.I - (Devisi Pengembangan SDM Lajnah Falakiyah NU Ponorogo, Kepala Lab. Falakiyah STAIN Ponorogo)

Kamis, 19 Juli 2012 | 12k o m e n t a r

Penetapan 1 Ramadhan 1433 H. Setiap menjelang Ramadan atau Shawwal, sering kali umat Islam disibukkan dengan perdebatan seputar kapan dimulainya 1 Ramadan atau 1 Shawwal. Ketika ditelusuri lebih lanjut, perdebatan itu biasanya muncul ketika secara hisab/hitungan nilai ketinggian hilal masih minim. Nilai ketinggian yang masih minim tersebut bisa berakibat adanya perbedaan penetapan ketika dibaca dengan metode dan kriteria yang berbeda.
Secara umum ada dua metode penetapan awal bulan qamariyah, yakni metode hisab dan metode ru’yat. Damana masing-masing metode mempunyai kriteria yang bermacam-macam. Di Indonesia, dua metode ini dianut oleh dua ormas terbesar, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Muhammadiyah menganut metode hisab dengan kriteria Hisab Wujud al-Hilal sedangkan NU menganut metode ru’yat dengan kriteria Ru’yat bi al-Fi’li. 
Secara hisab/perhitungan dengan markas Ponorogo, Ijtima’ (saat penghabisan bulan) terjadi pada hari Kamis Wage, 19 Juli 2012 pukul 11:24:30 WIB. Matahari tenggelam pada pukul 17:33:42 WIB, posisi matahari saat tengelam adalah 290° 45' 20" sedangkan posisi bulan 286° 20' 26" (bulan berada di sebelah selatan matahari) dengan ketinggian 00° 31' 15" (ghairu imkan al-ru’yat).
Illustrasi nilai ketinggian hilal untuk seluruh wilayah di dunia dengan menggunakan software aplikasi Mawaqit 2001 karya Dr. Hafid.

Sedangkan illustrasi kemungkinan ru’yat seluruh wilayah di dunia dengan bantuan software aplikasi Accurate Time karya Mohammad Odeh (Jordania) adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Wilayah yang diarsir merah adalah wilayah ketika matahari tenggelam tanggal 19 Juli 2012 nilai ketinggian hilal masih dibawah ufuk/negatif, sedangkan wilayah yang tidak diarsir (putih) adalah wilayah yang nilai ketinggian hilalnya positif tetapi tidak mungkin bisa diru’yat. Kemudian wilayah yang diarsir biru adalah wilayah yang mungkin bisa meru’yat hilal tetapi dengan bantuan alat bantu optik, dan wilayah yang diarsir merah dan hijau adalah wilayah yang mungkin bisa melakukan ru’yat dengan mata telanjang.
Sebagai sebuah Jam’iyah Diniyah Islamiyah (Organisasi Sosial Keagamaan Islam), sesuai dengan tujuan keberadaannya, NU berkewajiban untuk senantiasa mengamalkan, mengembangkan, dan menjaga kemurnian ajaran agama Islam yang diyakininya, termasuk di dalamnya adalah penentuan awal bulan qamariyah khususnya yang ada hubungannya dengan ibadah, yakni bulan Ramadan, Shawwal, dan Dhu al-Hijjah.
Sikap NU tentang sistem penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadan, Shawwal, dan Dhu al-Hijjah diambil melalui keputusan Muktamar NU XXVII di Situbondo (1984), Munas Alim Ulama di Cilacap (1987), Seminar Lajnah Falakiyah NU di Pelabuhan Ratu Sukabumi (1992), Seminar Penyerasian Metode Hisab  dan Ru’yat di Jakarta (1993), dan Rapat Pleno VI PBNU di Jakarta (1993), yang akhirnya tertuang dalam Keputusan PBNU No. 311/A.II.04.d/1994 tertanggal 1 Sya’ban 1414 H/13 Januari 1994 M, dan Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999). Namun pembahasan yang terkait dengan pemikiran hisab ru'yat NU kiranya sudah muncul dalam Mu'tamar NU ke 20 di Surabaya pada tanggal 8-13 September 1954,  di mana pembahasannya muncul dari pertanyaan NU cabang Banyuwangi dengan redaksi pertanyaan: 
"Bagaimana hukumnya mengumumkan awal Ramadan atau awal Syawal untuk umum dengan hisab atau orang yang mempercayainya sebelum adanya penetapan hakim atau siaran dari Depag? Bolehkah atau tidak?" 
Pertanyaan tersebut dijawab dengan dasar pegangan kitab al-Bughyah: 110 dan kitab al-Fatawa al-Kubra IV: 164, sebagai berikut: 
"Sesungguhnya mengabarkan tetapnya awal Ramadan dengan atau awal Syawal dengan hisab itu tidak terdapat di waktu Rasul Allah dan Khulafa' al-Rashidun. sedang pertama-tama orang yang membolehkan puasa dengan hisab adalah Imam Mutrrif guru Imam al-Bukhari. Adapun mengumumkan tetapnya awal Ramadan dan awal Syawal berdasarkan hisab sebelum ada penetapan/siaran dari Depag, maka Mu'tamar memutuskan tidak boleh. Sebab untuk menolak keguncangan dalam kalangan umat Islam dan Mu'tamar mengharapkan kepada pemerintah supaya melarangnya."[1] 
Selanjutnya dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo tanggal 21 Oktober 1983 ditetapkan bahwa: 
"Penetapan pemerintah tentang awal Ramadan dan awal Syawal dengan menggunakan dasar hisab , tidak wajib diikuti. Sebab menurut Jumhur Salaf bahwa terbit awal Ramadan dan awal Syawal itu hanya bi al-ru'yat atau itmam al-'adad thalathin yauman." 
Keputusan itulah yang menjadi salah satu pemikiran hisab ru'yat yang dikukuhkan dalam Munas Alim Ulama di Pondok Pesantren Ihya' Ulumuddin Kesugihan Cilacap tahun 1987 dan rapat kerja Lajnah Falakiyah NU di Pelabuhan Ratu tahun 1992.
Pandangan NU tentang ru’yat sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadan, Shawwal, dan Dhu al-Hijjah didasarkan atas pemahaman, bahwa nash-nash tentang ru’yat itu bersifat ta’abbudiy. Ada nash al-Qur’an yang dapat dipahami sebagai perintah ru’yat, yaitu QS. al-Baqarah:185 (perintah berpuasa bagi yang hadir di bulan Ramadan) dan QS. al-Baqarah:189 (tentang penciptaan ahillah). Dan tidak kurang dari 23 hadits tentang ru’yat, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hambal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain. Dasar ru’yat ini dipegangi oleh para Sahabat, tabi’in, tabi’al-ttabi’in dan empat madhhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).
Sebagai konsekwensi dari prinsip ta’abbudiy, NU tetap menyelenggarakan ru’yatul hilal bil fi’li di lapangan, betapa pun menurut hisab  hilal masih di bawah ufuk atau di atas ufuk tapi ghairu imkan  al- ru’yat yang menurut pengalaman, hilal tidak akan kelihatan. Hal demikian ini dilakukan agar pengambilan keputusan istikmal itu tetap didasarkan pada sistem ru’yat di lapangan yang tidak berhasil melihat hilal, bukan atas dasar hisab.
Ru’yat yang diterima sebagai dasar adalah hasil ru’yat di Indonesia (bukan ru’yat global) dengan wawasan satu wilayah hukum NKRI. Sehingga apabila salah satu tempat di Indonesia dapat menyaksikan hilal, maka hasil ru’yat demikian ini menjadi dasar itsbatul aam yang berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.
Ru’yat yang dikehendaki oleh NU adalah ru’yat yang berkualitas.Untuk mewujudkan ru’yat yang berkualitas, maka NU menggunakan ilmu hisab  dan menerima kriteria imkan al-ru’yat sebagai pendukung proses pelaksanaan ru’yat.
Dengan demikian penetapan awal bulan qamariyah  yang dipegang oleh NU adalah ru'yat al-hilal bi al-fi'li (melihat hilal secara langsung) atau istikmal. Sedangkan kedudukan hisab hanyalah sebagai pembantu dalam melaksanakan ru'yat.  
Atas dasar pemikiran di atas, maka PB Nahdlatul Ulama tidak mengumumkan jatuhnya tanggal 1 Ramadan 1433 H. jauh hari sebelumnya, sebagaimana yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah, akan tetapi menunggu hasil ru’yat al-hilal yang dilakukan di tempat-tempat khusus untuk pengamatan hilal  di seluruh wilayah Indonesia.
Namun berdasarkan hitungan di atas, kemungkinan hilal bisa diru’yat adalah sangat tipis, atau kalau tidak berlebihan bisa dikatakan mustahil. Sehingga tanpa bermaksud mendahului hasil ru’yat, hampir bisa dipastikan bahwa NU akan menetapkan 1 Ramadan 1433 H. Jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012. 
Wallah a’lam bi al-Sawab



[1] Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur, Ahkam al-Fuqaha' fi Muqarrarat Mu'tamarat Nahdat al-'Ulama' (Surabaya: Diantama, 2004), 283-284. Ahmad Zahro, Tradisi Intelktual NU (Yogyakarta: LKiS, 2004), 193-200.
Anda bersama gasud.com sedang membaca artikel tentang PENETAPAN 1 RAMADAN 1433H. PERSPEKTIF NU - Ahmad Junaidi, M.H.I - (Devisi Pengembangan SDM Lajnah Falakiyah NU Ponorogo, Kepala Lab. Falakiyah STAIN Ponorogo) dan anda bisa menemukan artikel PENETAPAN 1 RAMADAN 1433H. PERSPEKTIF NU - Ahmad Junaidi, M.H.I - (Devisi Pengembangan SDM Lajnah Falakiyah NU Ponorogo, Kepala Lab. Falakiyah STAIN Ponorogo) ini dengan url http://www.gasud.com/2012/07/penetapan-1-ramadan-1433h-perspektif-nu.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel PENETAPAN 1 RAMADAN 1433H. PERSPEKTIF NU - Ahmad Junaidi, M.H.I - (Devisi Pengembangan SDM Lajnah Falakiyah NU Ponorogo, Kepala Lab. Falakiyah STAIN Ponorogo) ini sangat bermanfaat bagi anda dan teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link PENETAPAN 1 RAMADAN 1433H. PERSPEKTIF NU - Ahmad Junaidi, M.H.I - (Devisi Pengembangan SDM Lajnah Falakiyah NU Ponorogo, Kepala Lab. Falakiyah STAIN Ponorogo) sumbernya.
Share this article :

12 komentar:

  1. selamat berpuasa ye, mudahan semua amal ibadah kita akn diterima ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. tempat saya masih besuk mulai puasa.......

      Hapus
  2. Coba kita kaji lbih jelas Hadits Rasul, "berpuasalah bila melihat hilal". Disini Rasulullah memerintahkan pada kita "berpuasalah" bukan "lihatlah".
    Nah, agar lebih mudah memahami ada contoh lain: Rasulullah juga memerintahkan pada kita "ucapkanlah salam bila bertemu dengan sesama muslim", manakah yang menjadi perintah Rasulullah, "ucapkanlah" atau "bertemulah"?. So pasti "Ucapkanlah".
    Mudah2an dg logika sederhana ini kita dapat memahami Hadits tersebut.
    Lantas kenapa Rasulullah masih pake Ru'yat? Karena Rasulullah dan para sahabat waktu itu blm bisa meng-hisab. sedangkan kita saat ini sudah dapat melakukan hisab dg sangat detil.
    Contoh lain penetapan waktu sholat, kita sudah tidak lagi "Melihat Matahari" sebagai patokan tapi cukup melihat jadwal sholat yang sudah kita "Hisab".
    Mudah2an ini dapat menjadi bahan kajian kita semua dg tetap berpedoman pada asas saling menghormati satu sama lain. Mhn Maaf dan Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. agar lebih bijaksana hendaklah anonim memberikan data yang jelas....

      Hapus
    2. Perkenalkan, nama saya Rosyid dr Surabaya. Trims

      Hapus
  3. Dengan segala kerendahan hati, saya mencoba menyampaikan hasil kajian sederhana saya terhadap 2 dalil mengenai cara menentukan awal Ramadhan.

    Coba kita buka surah Al-Baqarah ayat 185:

    فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

    “Maka barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan (awal) bulan maka hendaknya dia berpuasa.”

    Mengapa Allah menggunakan kata ”Syahida“ bukan “Ra’a”?

    “Ra’a” artinya “Melihat” (dengan mata kepala) sedangkan “Syahida” artinya “Menyaksikan” atau "Bersaksi" yang hal itu dapat dilakukan tanpa harus melihat dg mata kepala, tapi cukup dg menggunakan ilmu pengetahuan.

    Sebagai contoh, saat kita Bersyahadat kita mengucap “Aku Bersaksi bhw Tiada Tuhan selain Allah”. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita melihat Allah dg Mata kepala? Tentu Tidak. Tp melalui bukti-bukti yg kita temukan pada fenomena alam dan sebagainya kita meyakini Eksistensi Allah. Oleh karena itu, ada orang yang “Seeing is Believing” dan ada yang “Knowing is Believing”. Ada yg melihat dulu baru percaya tapi ada juga yang mengetahui lalu percaya (tanpa harus melihat).

    Lantas mengapa Rasulullah memerintahkan kita dg kata “Ra’a” dalam haditsnya “Shumu liru’yatihi..dst”? Karena umat Islam saat itu blm mampu meng-hisab sehingga belum dapat “menyaksikan” (mengetahui) dg tepat kapan awal bulan Ramadhan. Sedangkan Al Qur’an justru menggunakan kata “Syahida” utk menjelaskan pada kita bahwa cara mengetahui awal bulan Ramadhan tidak harus dg melihat langsung dg mata kepala tp bisa juga dg ilmu pengetahuan yg terus berkembang seiring dg perjalanan waktu.

    Nah, di sinilah kita paham gunanya memahami dalil-dalil Qur’an maupun Hadits tidak hanya secara Tekstual tapi juga Kontekstual. Dalam konteks semasa hidup Rasulullah yg paling tepat digunakan adalah Ru’yat, tapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya tehnologi maka dalam konteks masa kini kita dapat melakukan hal itu dg ilmu Hisab, dan dg Hisab pulalah kita bisa membuat Kalender Hijriyah dg tepat, sedang dg Ru’yat justru muncul byk keraguan, ada yg mengaku melihat, ada yg mengaku belum melihat, bahkan ada yg mengaku melihat dan berani disumpah tapi akhirnya tdk diakui sumpahnya. Ada pula yg meragukan keputusan pemerintah yang menetapkan 2 derajat sebagai ukuran sudah masuknya awal bulan meski secara empiris hampir tidak mungkin pula melihat hilal pada ketinggian 2 derajat. Oleh karena itu, kita bisa memahami kenapa ada umat Islam yang memilih hisab dg konsep Wujudul Hilal sebagai pedoman mengawali puasa Ramadhan.

    Demikian, smoga dapat menambah wawasan kita semua…. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. trims atas uraian sobat,, tapi lain kali kalau memberikan komentar sudilah kiranya memberikan data yang benar,,,agar smua bisa lebih jelas....

      Hapus
    2. 2 Tulisan diatas adalah hasil kajian sederhana saya yg masih jauh dan dangkal ilmunya ini. smoga kita bisa sama-sama belajar ttg Islam lebih dalam lagi. trims atas atensinya

      Hapus
    3. trims kembali kang rosyid......,,, tapi menurut pemahaman saya....,,,hisab itu digunakan apabila hilal tak terlihat....,,mungkin karena hilal yangtertutup awan mendung tebal sehingga menggunakan alternatif melalui Hisab

      Hapus
    4. monggo kang Rosyid ,,kalau berkomentar di isi ya kolom diatasnya publikasi di bawah ini.... biar lebih komplit....

      Hapus
  4. Klo Hisab kita gunakan hanya saat Hilal tdk terlihat, bagaimana halnya dg Waktu Sholat? Matahari sering terlihat dan langit selalu cerah terutama di musim kemarau, tp kita sudah tdk lagi melihat matahari utk menentukan kapan waktu sholat karna sudah ada Jadwal Sholat. Nah, bagaimana dg Mas Poetra, apakah masih melaksanakan hadits Rasul ttg cara menentukan waktu sholat dg melihat matahari?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya pribadi pilih nurut aja kepada pemimpin,,karena saya bukan ahli hisab ataupun ahli rukyat.....
      bagi saya manut nang kyai itu sudah cukup...

      Hapus

>>> Please do not use anonymous ....
>>> Berikan data anda dengan benar.....
>>> Berikan komentar anda sebagai bukti bahwa anda adalah pengunjung dan bukan robot......
>>> Komentar ANONIM tidak akan ditanggapai oleh admin......
>>> Sorry, Admin will not respond to anonymous comments are not clear. so thank you

 
Support : Creating Website | Poetra Ogros | Aswaja Fm | Master Web
Copyright © 2011. Bukan Gagal Maksud - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Poetra